Profil

Pasti Bisa !

Dinda Permata Sumantri, adalah pemenang pertama Lomba Menulis dalam rangka ultah pertama AIMI Jatim. Berprofesi sebagai ibu rumah tangga, dia telah menyempurnakan perjalanan 2 tahunnya dalam menyusui Hazel Ahza Andeski / eL.

Salah satu keputusan terpenting dalam hidupku selain menikah adalah memilih untuk menyusui Hazel dan tidak memberikan susu formula hingga saat ini.

Semenjak itulah aku yang dulunya tomboy, anak bungsu yang mempunyai 6 keponakan tapi tidak pernah ikut mengurus apalagi bantu gendong, tidak suka anak kecil dan tidak suka tangisan bayi tiba tiba menjelma jadi seorang IBU. Ya, seorang ibu yang harus mengurus semua tetek bengek bayi tanpa bantuan ART atau orangtua..

Semenjak pertama menyusui aku sudah bertekad untuk memberikan ASI exclusive. Beberapa teman mengatakan, “Apa susahnya nyusuin, kamu kan ibu rumah tangga”. Alhamdulillah aku memang tidak bekerja sehingga bisa memberikan seluruhnya waktu dan perhatian untuk keluarga. Menyusui menjadi lebih mudah karena suami selalu ringan tangan membantu berbagai pekerjaan domestik rumah.

Aku sangat beruntung mempunyai suami yang mendukung penuh ASI. Ada kalanya pekerjaan rumah menumpuk, cucian popok dan setrikaan segunung (kami sepakat tidak menggunakan ART) dan ketika terbangun dikeesokan harinya semua sudah selesai. Baju dengan rapi telah disetrika dan rumah sudah kembali bersih kembali.

“Makasih ya Pa, dah jadi breastfeeding father eL”
“Apa itu breastfeeding father? Maksudnya aku nyusuin?” goda suamiku waktu itu.
“Bukan, breastfeeding father itu suami yang mendukung penuh istrinya menyusui” lanjutku.
“Buat eL apa yang nggak, papa rela jadi ART dirumah kita” jawab suami sambil tertawa.

Alhamdulillah suami mengerti pentingnya ASI untuk tumbuh kembang anak. Pada saat eL lahir, suami menyingkirkan segala phobia darah dan menguatkan hati untuk menemani persalinan, menyemangatiku dan eL sehingga kami dapat melewati proses IMD dengan baik. Suami berhasil meyakinkan keluarga dan orang disekeliling kalau aku mampu memberikan ASI esklusif dan tidak memerlukan susu formula.


Suami benar benar membuktikan ucapannya, dukungan tidak berhenti disana. Suami juga siaga dan sigap menggendong eL ketika nangis dan aku harus mengisi perut. Menyiapkan bantal untuk menyusui, memijat kaki agar rileks, menyiapkan susu dan berbagai cemilan. Rasanya semua pekerjaan mengurus bayi bisa dilakukan dengan baik oleh suami.

Bagiku pengalaman menjadi ibu dan menyusui adalah menakjubkan. Kami berhasil mengusir segala kekhawatiran dan keamatiran menjadi orangtua. ASI juga mempererat hubungan suami – istri, bagaimana tidak. Dengan ASI kami bahu membahu mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, saling bertukar informasi, rajin menyambangi situs parenting dan kami seolah menjelma menjadi rekan diskusi yang bertukar cerita dan informasi seputar menyusui dan permasalahannya.

Alhamdulillah eL berhasil lulus ASI eksklusif. Kini di usianya yang ke duapuluh bulan, eL masih minum ASI tanpa susu formula. Anaknya makin aktif, banyak ide, sehat dan cerdas. Kami tentu sangat bahagia sekali. Tidak ada yang tidak mungkin, kalau kita sudah niat kuat dan bersungguh sungguh pasti bisa kasih ASI ke bayi kita. Semangatt untuk ibu menyusui lainnya.

Thanks Dinda Permata (@emaknyahazel), for sharing with us.

Leave a Reply

*