The Best for Nayara
Meta Herdiana Hanindita, ibu dari Arshiya Nayara Avanisha Nugroho (Nayara, 10 bulan), dan istri dari dokter spesialis obgyn, Hari Nugroho, adalah pemenang kedua dalam lomba menulis dalam rangka ulang tahun pertama AIMI Jawa Timur. Profesinya sebagai penyiar di sebuah radio swasta Surabaya, presenter di JTV/SBO TV, dan sekarang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis anak, tidak menghentikan langkahnya untuk tetap memberikan asi eksklusif untuk Nayara.
Jujur, di awal kehamilan, Saya getol browsing mengenai sufor yang terbaik. Lingkungan sekitar sedikit banyak mempengaruhi saya. Mulai ipar, sepupu, teman bahkan tetangga berlomba menawarkan sufor yang mereka pakai dengan iming-iming: “Pakai ini aja, Met. Biar anakmu gemuk, sehat kaya anakku”. Atau “Susu ini aja lho Met bisa bikin pinter”. Syukur, ada hikmahnya karena justru ‘kerajinan’ browsing itulah yang menyadarkan saya susu terbaik untuk Nayara, tak lain dan tak bukan, adalah ASI.
Pada waktu melahirkan secara caesar karena severe oligohydramnion, sungsang, terlilit tali pusar 3x, kelainan jantung hormonal yang saya derita, ditambah hipertensi dengan usia kehamilan baru menginjak minggu ke-35 (Komplit :p ), saya sudah sangat cemas bila ASI tidak keluar apalagi karena saya termasuk malas melakukan massage pada waktu hamil (Jangan dicontoh ya! Hehe). Alhamdulilah, ASI keluar langsung begitu selesai operasi.
Masalah mulai datang ketika Nayara terlihat kuning di hari ke-4. Bilirubinnya 15 dan harus difototerapi. Supaya fototerapi efisien, saya harus memerah ASI untuk diberikan menggunakan sendok. Saya ikut menemani Nayara di RS. Setelah beberapa hari, bilirubin turun, kami pulang. Ternyata, di hari ke 9, Nayara kembali kuning, dan harus difototerapi lagi. Bilirubinnya waktu itu mencapai 26mg/dl. Ini kembali terulang di usia Naya yang ke-3 minggu, 4 minggu, dan 5 minggu. Kadar bilirubin tertinggi yang pernah dicapai adalah 27mg/dl. Tentu saja saya cemas dan sedih. Hampir 1,5 bulan Nayara harus difototerapi. Proses menyusui pun jadi sulit karena Nayara lebih banyak minum ASIP daripada menyusui langsung.
Keadaan saya yang sendirian pasca melahirkan (suami dinas di luar pulau, orang tua saya sakit, mertua sedang di luar kota) sedikit banyak juga sepertinya mempengaruhi produksi ASI saya. Capai luar biasa menemani Nayara fototerapi di rumah sakit, lelah pasca operasi dan belum ada babysitter saat itu membuat saya stress. Saya sempat menerima donor ASI beberapa hari. Kuningnya Nayara didiagnosa sebagai Breastmilk Jaundice, murni akibat ASI. Karena kasihan melihat cucunya bolak balik masuk rumah sakit untuk difototerapi, mama saya yang sudah sembuh dan bisa menemani saya selama suami tidak di rumah pun bolak balik meminta saya untuk tidak memberikan ASI, tapi berdasarkan buku-buku kesehatan, konsultasi dengan konselor laktasi, bahkan nekad sok kenal sok dekat mengirimkan email ke Jack Newman :p , saya keukeuh untuk tetap memberikan ASI.
Syukurlah, setelah hampir 1,5 bulan difototerapi, Nayara tidak lagi kuning. Saya bisa mulai mendisiplinkan diri untuk menyimpan ASIP. 2-3 jam sekali di luar jam menyusui, saya pumping untuk mulai stock ASIP. Tidak seperti orang lain yang bisa ratusan cc, saya hanya bisa mendapat maksimal 30cc perkali pumping. Segala macam makanan atau suplemen sudah dicoba, tapi memang mentok disitu entah kenapa. Saya pantang menyerah. PASTI bisa! dan HARUS bisa. Jadilah, hasil pumping yang cuma 20cc itu saya kumpulkan sedikit demi sedikit, lalu digabung untuk disimpan dalam freezer. Mama saya sempat gemas karena melihat saya begitu ngototnya, sampai melupakan waktu istirahat. Beliau meminta saya memberikan sufor di malam hari agar bisa tidur. Untungnya, mama tipe open-minded. Saya printkan jurnal-jurnal kesehatan tentang pentingnya ASI eksklusif, eh akhirnya mama malah membelikan saya deep freezer khusus untuk ASIP.
Setiap kali merasa bosan pumping karena jadi tidak bisa tidur tenang lebih dari 2 jam, mau pergi kemana pun harus pasang stopwatch untuk reminder pumping, saya tinggal melihat foto Nayara yang sehat, lucu dan hilanglah sudah keletihan atau kebosanan itu
Lama-lama, saya merasa justru sayalah yang butuh menyusui. Saya merasa dibutuhkan dan dicintai. Apalagi saat tangan mungil Nayara memegangi saya saat menyusui kemudian setelahnya tersenyum lebar penuh kasih benar-benar tidak tergantikan. I do really love every breastfeeding moment with her. Bismillah, semoga Allah SWT memberi saya kesabaran yang besar, dan saya bisa tetap telaten menyusui dan pumping sampai 2 tahun kelak. Atau bahkan lebih. Amin. Doakan ya!

I’ll give the best for my kiddo. Only the best, whatever it takes
Terimakasih ya Meta, saluuutt !!

Meta Herdiana Hanindita, ibu dari Arshiya Nayara Avanisha Nugroho (Nayara, 10 bulan), dan istri dari dokter spesialis obgyn, Hari Nugroho, adalah pemenang kedua dalam lomba menulis dalam rangka ulang tahun pertama AIMI Jawa Timur. Profesinya sebagai penyiar di sebuah radio swasta Surabaya, presenter di JTV/SBO TV, dan sekarang sedang menjalani pendidikan dokter spesialis anak, tidak menghentikan langkahnya untuk tetap memberikan asi eksklusif untuk Nayara.





wawww!! semoga menjadi inspirasi Working Mom yang lain.. sesibuk apapun Pasti Bisa!! TFS mbak meta..