Penulis: Farahdibha Tenrilemba, S.S., M.Kes. (Wakil Ketua Umum AIMI)


SIARAN BERITA ONE ASIA BREASTFEEDING PARTNERS FORUM 7

AIMI, Jakarta (9/11): Pertumbuhan ekonomi di Indonesia membawa dampak pertumbuhan di segala bidang industri. Termasuk industri susu formula. Sedemikian besarnya pasar industri susu formula sehingga menjadikan Air Susu Ibu (ASI) bukan satu-satunya makanan bayi.

Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Tampaknya telah terjadi perubahan paradigma orang Indonesia sebagai dampak dari promosi susu formula. Berdasarkan data menyusui terakhir dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2007, konsumsi susu formula meningkat dari 15% pada tahun 2003/2004 menjadi 30% pada tahun 2007, sedangkan jumlah bayi yang disusui secara eksklusif menurun dari 40% pada tahun 2003/2004 menjadi 30% pada tahun 2007.

Hal ini yang menjadi alasan mengapa Menteri Kesehatan Republik Indonesia, ibu dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH,Dr. PH, mengeluarkan pernyataan di media massa untuk mengakhiri promosi makanan dan minuman pengganti ASI. Pernyataan ini datang pada saat tepat, khususnya saat terjadi bencana pada 25 dan 26 Oktober. Di mana bantuan berupa makanan pokok dan pakaian menjadi prioritas utama untuk didatangkan ke tempat bencana – hal ini juga didukung dengan berkembangnya teknologi seperti internet, jaringan sosial twitter dan facebook, yang semuanya menjadi sarana untuk meminta bantuan.

Sebagian besar donasi datang dalam bentuk susu formula dan makanan bayi yang dapat membahayakan bayi dan anak- anak, yang justru semakin rapuh dalam kondisi bencana. ASI melindungi bayi dan anak – anak dari penyakit dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh, serta memberikan asupan gizi yang mereka butuhkan. Bagaimanapu, para ibu – ibu ini membutuhkan dukungan untuk tetap menyusui terutama saat dan setelah terjadinya bencana, saat mereka mengalami tekanan emosional dan fisik disertai beban yang meningkat.

Kurangnya dukungan untuk menyusui, baik saat normal maupun bencana merupakan hal yang umum ditemukan berdasarkan temuan the World Breastfeeding Trends Initiative: Status of Breastfeeding in 33 Countries. Pada laporan tersebut dengan jelas menunjukkan bahawa mendukung para ibu untuk menyusui menjadi prioritas kesekian pemerintah di seluruh dunia, dan juga tidak memberikan dukungan menyusui saat bencana dan kegawatdaruratan.

“Untuk melindungi bayi melalui menyusui, perlu menjembatani celah antara kebijakan dan program yang ada. Informasi mengenai apa masalah dan apa yang perlu dilakukan tersedia bagi hampir seluruh anak – anak di dunia,” demikian menurut Dr Arun Gupta, Regional coordinator of International Baby Food Action Network (IBFAN) Asia. “ “Laporan mengenai sebagian anak-anak yang tinggal di negara yang sudah melakukan penilaian WBTi itu telah selesai. Banyak dari negara-negara ini juga memiliki angka kematian yang tinggi. Langkah –langkah untuk meningkatkan angka menyusui akan sejalan dengan perlindungan dari penyakit dan perkembangan otak anak-anak.”

Indonesia beruntung memiliki Menteri Kesehatan yang menaruh perhatian pada status menyusui dan juga gerakan menyusui disaat situasi gawat darurat. Lewat berbagai media, beliau menyatakan kepada seluruh Masyarakat yang ingin mendonasikan susu formula dan makanan bayi instant, untuk mendukung para ibu menyusui agar tetap memberikan atau memerah ASInya disaat kegawatdaruratan. “Indonesia telah membuktikan bahwa hal ini dapat terjadi, yaitu dengan membuat pojok-pojok laktasi di wilayah bencana dimana didalamnya terdapat para konselor laktasi yang menjalankan kelompok-kelompok pendukung menyusui. Tidak lupa harus memastikan penyebaran donasi susu formula sebaiknya dibawah pengaturan satu pintu dan diikuti penjelasan yang menyeluruh akan pemberian makanan pengganti ASI tersebut” ujar dr. Utami Roesli FABM, IBCLC.

One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 menyerukan kepada semua bangsa di dunia untuk memprioritaskan kesehatan bayi mereka dan memberhentikan bentuk-bentuk promosi makanan pengganti ASI. Forum-forum terdahulu telah diselenggarakan oleh IBFAN Asia, sebuah lembaga yang telah mempelopori penilaian kebijakan dan program untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui di lebih dari 70 negara yang sebanyak 33 negara telah menyelesaikan penilaiannya. Mulai tahun 2004, IBFAN Asia telah menyelenggarakan beberapa Forum, di berbagai negara, dimana masyarakat sipil dan pemerintah berpartisipasi aktif dalam mengambil tindakan untuk meningkatkan pemberian ASI. Pada awalnya, forum ini hanya diikuti oleh negara-negara Asia Selatan. Namun sejak tahun lalu, Forum 6, IBFAN Asia mengundang lebih banyak negara dari Asia Timur dan Asia Tenggara. Indonesia diwakili oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) . Tema Forum 7 adalah "Seruan Mengakhiri bentuk Promosi Makanan & Minuman Pengganti ASI. Lebih dari 100 peserta mewakili negara-negara Asia akan berbagi status menyusui di negara mereka masing-masing serta bentuk-bentuk pelanggaran terkini terhadap Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, serta langkah yang diambil pemerintah. "Forum ini diselenggarakan untuk membangun jaringan nasional dan internasional dan memperkuat kolaborasi masyarakat dan pemerintah untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung menyusui", seperti dikatakan Farahdibha Tenrilemba, Sekretaris Jenderal AIMI sekaligus ketua penyelenggara One Asia Breastfeedng Partners Forum 7. "Forum ini dharapkan dapat membuka mata semua pihak tentang keberadaan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI serta jenis-jenis pelanggaran yang terjadi sehingga masyarakat dapat menjadi ‘pengawas’ dengan begitu akan membantu peningkatan angka menyusui" dia menjelaskan.

Forum 7 diselenggarakan berkat kerjasama AIMI dengan IBFAN Asia berkolaborasi dengan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dan didukung oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, WHO, UNICEF, Care, Mercy Corps, WVI dan Save the Children.


Fact Sheet AIMI: Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) adalah organisasi independen yang terbentuk dari kepedulian beberapa ibu mengenai pentingnya pemberian ASI untuk bayi secara eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan hingga 2 tahun atau lebih. Saat ini dukungan untuk ibu yang memberikan ASI kepada bayinya dirasakan kurang, baik itu perhatian dan dukungan dari pemerintah, masyarakat umum dan instansi swasta. Berbagai kegiatan telah dilakukan AIMI untuk mensosialisasikan ASI, antara lain kegiatan regular kelas edukasi AIMI dengan tema seputar ASI, talkshow MP-ASI sehat untuk bayi, AIMI Goes to Office yaitu sosialisasi mengenai ASI yang dilakukan di kantor-kantor, pemberian penghargaan kepada perusahaan yang mendukung pemberian ASI, konsultasi laktasi dan kegiatan lainya.


Contact Person AIMI: Mia Sutanto AIMI Chairwoman mia.sutanto@aimi-asi.org, +6281510002584

Farahdibha Tenrilemba Head Project Committee of One Asia Breastfeeding Partners Forum 7 diba@aimi-asi.org, +62811988586

Sisca Baroto-Utomo Head of Communications Division sisca@aimi-asi.org, +62818765021

Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Graha MDS lt. 3 Pusat Niaga Mas Fatmawati Blok B1/34 Jl. RS. Fatmawati no. 39, Jakarta Telp: 021.72790165 Fax: 021.72790166


Terdapat pada kategori Berita pada 09 Nov 2010

Informasi Lainnya

AIMI 15th SEHATI Virtual Run & Ride

MengASIhi x COVID-19

Menyusui Saat Positif COVID-19

Buku KIA 2021 Revisi Lengkap