Penulis: Mia Sutanto, SH, LL.M - Konselor Menyusui dan Ketua AIMI

02-bayi-sering-menangis

Jujur saja, pengalaman saya sebagai seorang konselor menyusui, inilah hal yang paling ditakuti oleh seorang ibu. Bayi menangis terus padahal baru saja disusui selama 1 jam. Bayi menangis terus padahal sering disusui setiap setengah jam sekali, baru saja diletakkan ditempat tidur, 15 menit kemudian sudah bangun dan minta disusui lagi. Haduh, apakah ini tandanya ASI tidak cukup ya?!

Mungkin yang perlu pertama kali diingat adalah, bayi belum bisa berbicara. Satu-satunya cara seorang bayi berkomunikasi dengan orangtuanya adalah melalui tangisan. Makanya para pakar sepakat bahwa apabila orangtua langsung menanggapi dan merespon tangisan bayinya, terutama pada bulan-bulan awal kehidupan sang bayi, hal tersebut tidak akan membuat si bayi menjadi manja, justru sebaliknya, bayi akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan percaya diri karena merasa selalu ’didengar’ oleh orangtuanya.

Bagaimana cara bayi memberitahukan ibu bahwa ia sedang lapar? Ya tentu melalui tangisan. Tetapi apakah berarti setiap kali bayi menangis tandanya ia sedang lapar? Belum tentu. Yuk, kita simak satu persatu apa kiranya yang menyebakan seorang bayi menangis, terutama dalam kaitannya dengan pemberian ASI dan masa menyusui.

1. Posisi Menyusui dan Pelekatan

Banyak faktor yang mempengaruhi posisi dan pelekatan ini, seperti anatomi payudara (besar, kecil, dll.) serta puting (besar, kecil, datar, dll.) ibu dan anatomi mulut bayi (celah bibir, lidah pendek, dll.). Apabila posisi menyusui dan/atau pelekatan mulut bayi masih kurang tepat, ada kemungkinan bayi tidak dapat mengeluarkan dan minum ASI secara maksimal dari payudara ibunya serta pelekatan mulut bayi pada payudara si ibu. Akibatnya, walaupun bayi sering dan lama menyusunya, bayi akan cepat menangis dan lapar kembali karena sebenarnya belum kenyang. Mungkin salah satu hal yang paling menentukan apakah bayi dapat mengeluarkan ASI secara efektif dari payudara ibunya, sehingga dapat minum ASI sampai puas, adalah posisi menyusui.

2. Faktor Psikis dan Kesehatan Fisik Ibu

Bayangkan skenario ini: seorang ibu baru saja selesai menyusui bayinya yang berusia 10 hari kemudian secara perlahan-lahan, supaya tidak membangunkan, meletakkan bayi tersebut di tempat tidurnya. 15 menit kemudian bayinya terbangun dan menangis, ibu kembali menyusui bayi selama setengah jam. Selesai menyusui, ibu beringsut-ingsut ke kamar mandi karena dari pagi belum mandi. Saat hendak melepas pakaian, terdengar lagi suara tangisan bayinya. Ibu menjadi stres, cemas, takut dan khawatir ASInya pasti tidak cukup atau hanya sedikit sehingga bayinya sering terbangun dan menangis karena lapar. Belum lagi rasa capek, pegal, sisa sakit akibat persalinan, dan pola makan yang belum teratur karena terlalu sibuk mengurus sang buah hati (baby blues). Kombinasi dari beberapa faktor di atas bisa mempengaruhi kerja hormon oksitosin sehingga Let Down Reflex (LDR) atau kelancaran ASI menjadi terhambat dan bayi tidak dapat minum dengan puas. Akibatnya, baru selesai disusui, bayi akan menangis lagi untuk minta disusui karena sebenarnya ia belum kenyang.

3. ASI Sangat Mudah Diserap dan Dicerna

Jadi bayangkan, begitu masuk kedalam lambung, ASI langsung dicerna dan diserap secara sempurna oleh tubuh bayi. Tidak heran kan kalau bayi ASI lebih cepat dan mudah merasa lapar kembali. Selain faktor ukuran lambung bayi yang memang kecil, ternyata ASI sangat mudah diserap dan dicerna oleh tubuh bayi. Semua nutrisi yang terkandung dalam ASI sangat cocok dan mudah diserap oleh pencernaan seorang bayi manusia karena ASI mengandung enzim-enzim pencernaannya sendiri.

4. Produksi ASI: Supply and Demand

Memang betul selama periode menyusui, produksi ASI sangat ditentukan oleh prinsip supply and demand. Walau hal tersebut tidak berlaku pada hari 1-3 setelah kelahiran bayi, mengingat ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil, bayi tetap perlu sering menyusu untuk mendapatkan kolostrum secara maksimal. Pada saat kolostrum berubah menjadi ASI transisi, sekitar hari ke-2 atau ke-3, maka mulailah prinsip supply and demand. Artinya, semakin sering payudara diisap dan dikosongkan, maka semakin sering dan semakin banyak ASI akan diproduksi. Pada saat-saat tersebut produksi ASI lebih ditentukan oleh kerja hormon prolaktin. Misal demand bayi sudah besar akan tetapi supply ASI masih sedikit maka bayi akan sangat sering menyusu dan menangis karena lapar. Atau sebaliknya, supply ASI tinggi namun demand bayi masih amat sedikit, walhasil bayi sering menangis saat sedang menyusu karena aliran ASI sangat banyak atau menangis setelah menyusu akibat kembung menelan terlalu banyak udara.

5. Kapasitas Perut Seorang Bayi

Kenapa kolostrum diproduksi dalam jumlah yang sangat sedikit, setiap kali bayi menyusu pada hari-hari pertama hanya minum 1-2 sendok teh kolostrum? Sebab pada hari pertama kapasitas lambung seorang bayi baru lahir hanyalah sebesar 5-7 ml setiap kali minum. Iya, ukuran lambungnya hanya sebeser kelereng (gundu), dan dinding lambung tidak bisa melar untuk menampung lebih banyak cairan. Oleh karenanya bayi baru lahir HANYA membutuhkan kolostrum yang kualitas dan kuantitasnya secara sempurna memenuhi kebutuhan bayi. Pada hari ke-3, ukuran lambung bayi membesar menjadi seukuran bola bekel atau seukuran kepalan tangannya, sehingga sekali minum lambung sudah bisa menampung 22-27 ml. Biasanya pada hari ketiga ini kolostrum mulai berubah menjadi ASI transisi dan volumenya pun bertambah. Pada hari ke-7, lambung kembali membesar seukuran bola pingpong, sehingga bayi mulai bisa minum 45-60 ml setiap kali menyusu. Di hari ke-10 ukuran lambung bayi kurang lebih sama dengan telur ayam yang besar, dan kapasitasnya bertambah menjadi sekitar 60-81 ml sekali minum. Pada usia sekitar 10-14 hari inilah bayi mengalami percepatan pertumbuhan yang pertama. Kalau sudah tahu begini, jangan kaget ya kalau ternyata bayi menyusu setiap 1-1,5 jam atau bahkan kurang dari itu. Ternyata ukuran lambung bayi memang sangat kecil, hanya bisa menampung sedikit setiap kali menyusu sehingga bayi perlu SERING menyusu.

6. Percepatan Pertumbuhan (Growth Spurt)
Pada periode ini bayi mengalami pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental yang sangat cepat, sehingga membutuhkan ekstra kalori untuk mengimbanginya. Pada bayi ASI, ekstra kalori tersebut didapat dengan cara meningkatkan produksi ASI ibu. Cara yang paling ampuh untuk meningkatkan produksi ASI adalah dengan bayi lebih sering menyusu. Percepatan pertumbuhan tidak hanya terjadi pada bayi, tetapi hal ini akan terus terjadi sampai dengan bayi menjadi seorang remaja. Namun pada bayi, kondisi ini biasanya hanya berlangsung sekitar 3 hari dan terjadi di usia 10-14 hari, 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, 6 bulan dan 9 bulan.

7. ASI yang Diperah ≠ ASI yang Diproduksi

Inilah kesalahan yang seringkali dilakukan oleh para ibu, memerah untuk melihat berapa banyak ASI yang mereka hasilkan. Jumlah ASI yang berhasil diperah hanya menunjukkan seberapa banyak ibu dapat memerah ASI, dan TIDAK menunjukkan kemampuan payudara ibu untuk memproduksi ASI. Jumlah ASI perah tergantung pada banyak hal seperti LDR, seberapa lihai ibu memerah dengan tangan atau menggunakan pompa ASI, atau kualitas pompa ASI. Kemampuan ibu untuk memerah ASI jauh dibawah kemampuan bayi untuk mengisap dan mengeluarkan ASI langsung dari payudara. Itupun rata-rata bayi hanya dapat ’mengosongkan’ payudara sekitar 70% dari kapasitas produksinya.

8. Menyusu: Memenuhi Rasa Haus, Lapar, Aman dan Nyaman
Bagaimana bila bayi sedang dalam fase tumbuh gigi, dalam proses pencapaian salah satu tahap perkembangannya, atau bayi sakit dan tidak enak badan? Semua itu dikomunikasikan melalui tangisan karena bayi sangat membutuhkan rasa nyaman yang diperoleh dari dekapan hangat penuh cinta ibu terutama pada saat menyusu. Wah, enggak heran ya seorang bayi sering menangis. Hal yang tidak disadari oleh para orang tua adalah bayi menyusu bukan karena lapar saja, tetapi terkadang bayi hanya haus, dan di lain waktu bayi menyusu karena membutuhkan kenyamanan dekapan ibu.

9. Bayi Baru Lahir Butuh Penyesuaian

Setelah 9 bulan didekap dengan hangat dan lembut dalam rahim ibu, diiringi dengan kedamaian suara detak jantung ibu, tiba-tiba harus lahir ke dunia yang terang benderang, berisik, ramai, dingin, penuh dengan orang-orang yang tidak dikenal. Tidak heran bayi yang baru lahir langsung nangis sekencang-kencangnya. Di sinilah salah satu manfaat melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Ternyata bayi akan berhenti menangis apabila langsung diletakkan di atas dada ibunya dan tingkat hormon stresnya akan menurun sebesar 50%. Bayangkan kita harus tinggal di negara lain, belum pernah kesana, tidak kenal siapa-siapa, tidak bisa berbahasa setempat, belum cocok dengan makanan lokal, belum lagi terdapat perbedaan musim dan waktu. Begitulah kira-kira apa yang dialami seorang bayi saat baru lahir, semua serba asing, serba baru, serba belum bisa. Satu-satunya usaha yang bisa dilakukan adalah dengan berkomunikasi, melalui tangisannya.

10. Produksi ASI Memang Sedikit (1 dari 1000 Wanita)

Pada akhirnya, dari 1000 wanita yang mengaku ASInya sedikit atau kurang, ada 1 yang memang betul-betul tidak dapat menghasilkan ASI untuk mencukupi kebutuhan bayinya. Hal ini biasanya disebabkan oleh kelainan anatomi pada payudara dan/atau gangguan hormon ASI pada si ibu.

Apa yang Dapat Ibu Lakukan?

Untuk (1), pelajari, pelajari, dan pelajari. Silakan ikut Kelas EdukASI AIMI: Breastfeeding Basics untuk mempraktikkan secara langsung berbagai posisi menyusui serta pelekatan mulut bayi pada payudara. Jangan ragu untuk meminta bantuan seorang konselor menyusui ataupun ke klinik laktasi abila memang dirasakan ada masalah seputar posisi menyusui dan pelekatan bayi.

Untuk (2), hindari kondisi ini. Otak ibu bagaikan sebuah komputer, apabila sudah terkena ’virus’ stres, cemas, khawatir, takut dan tidak percaya diri, maka kerja hormon-hormon menyusui akan terhambat. Untuk (7), wah, hindarilah. Tidak perlu melakukan ini, salah-salah malah akan menambah ’virus’ di otak ibu.

Untuk (3), (4), (5) dan (6), pelajari, waspadai dan antisipasi keadaan. Dengan mengetahui bahwa ASI sangat mudah diserap, diproduksi berdasarkan prinsip supply and demand, kapasitas lambung bayi sangat kecil, dan bayi akan mengalami beberapa kali periode percepatan pertumbuhan, normal kan kalau bayi akan sering menyusu pada ibunya?

Untuk (8) dan (9) terimalah secara ikhlas bahwa keadaan bayi memang demikian. Bayi tidak melakukan semua itu karena manja atau bertujuan memanipulasi umtuk sengaja menyusahkan orang tuanya, tetapi karena memang bayi membutuhkannya.

Untuk (10), apabila segala permasalahan (1) sampai (9) sudah berhasil diatasi namun ternyata produksi ASI memang sedikit, dan setelah dilakukan pengecekan dan tes kesehatan bahwa memang ibu mengalami kelainan anatomi payudara ataupun gangguan hormonal yang menyebabkan produksi ASI sedikit, maka dapat diberikan suplementasi melalui ASI donor, ataupun susu formula supaya bayi tidak terkena gejala failure to thrive. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sebagai salah satu bentuk suplementasi sangat tidak dianjurkan bagi bayi berusia di bawah 6 bulan.

So mom, ternyata karena ukuran lambung yang kecil serta komposisi ASI yang sangat mudah diserap dan dicerna oleh bayi menyebabkan ia jadi sering menyusu. Apalagi ditambah dengan faktor growth spurt serta ingin selalu mendapatkan rasa aman dan nyaman, sepertinya bayi tidak pernah lepas dari dekapan kita ya?

Menangis merupakan satu-satunya cara bayi untuk berkomunikasi, jadi ingat, menangis tidak selalu berarti bayi sedang lapar. Saat bayi kelak tumbuh menjadi manusia dewasa sempurna yang sehat, cerdas dan berakhlak baik, momen-momen 'berat' saat bayi seolah-olah tidak pernah lepas dari payudara ibu ternyata hanya merupakan ’sedetik’ dari perjalanan panjang hidupnya yang akan berlalu dalam sekejap.

Breastfeed with love!! Salam ASI!


Terdapat pada kategori Cerita Sukses, Informasi pada 18 Feb 2009

Informasi Lainnya

AIMI 15th SEHATI Virtual Run & Ride

MengASIhi x COVID-19

Menyusui Saat Positif COVID-19